Kamis, 18 April 2013

Pendidikan Tahun 2013 Kacau Balau


Henry Alexis Rudolf Tilaar termasuk pihak tidak setuju dengan bakal berlakunya kurikulum 2013. Dia menyebut isi seluruh haluan program pendidikan itu kacar semua.

"Ini kacau, kacau balau," kata Tilaar saat ditemui Islahuddin dan Alwan Ridha Ramdani dari merdeka.com di rumahnya di bilangan Patra Kuningan Utara, Jakarta Selatan, Selasa (16/4). Berikut penuturan Tilaar.

Apa benar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) akan diganti Kurikulum 2013 tidak berhasil?

Tidak ada yang tahu, tidak ada evaluasi, malahan KTSP di daerah terpencil tidak ada yang tahu apa itu. Yang dia tahu ujian nasional. Di Yogya ada sekolah menyelenggarakan KTSP baru tahun kemarin. Apalagi di pulau-pulau terpencil, di hutan-hutan pedalaman Kalimantan atau Papua. Ini saya jelaskan saat di rapat-rapat, bagaimana penyusunan suatu kurikulum. Bukan pada kurikulum tetapi bagaimana proses belajarnya. Kalau proses belajar tidak benar tidak ada gunanya.

Kenapa bangsa kita ini sesudah 68 tahun merdeka masih tetap kemajuannya relatif rendah? Ini disebabkan pendidikan kita mematikan kreativitas. Nah, kreativitas itu hanya bisa dibangkitkan melalui proses pembelajaran membangkitkan semangat, minat, kritis, dan menciptakan sesuatu yang produktif. Inilah proses belajar kreatif. Tapi kalau dia direcoki ujian nasional, hasilnya akan nyaris sama semua, yang berbeda akan mati.

Tapi soal ujian nasional tahun ini tidak sama, kabarnya ada 20 item?

Dia hanya ngomong, dia tidak membuktikan di lapangan dia punya konsep itu akan menghasilkan anak-anak kreatif. Dengan ujian nasional ini saja, dia sudah mematikan kreativitas anak-anak kita. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan Finlandia, dia bukan membuat kurikulum tetapi dia membuat proses belajar. Anak-anak itu dibuka kemungkinan apa yang ada dalam diri mereka, peluang tiap siswa ada.

Pertengahan tahun ini KTSP akan diganti Kurikulum 2013 dan ujian nasional tetap dilaksanakan?

Ini kacau, kacau balau. Saya setuju dengan Pak Utomo dari Universitas Paramadina, pecat saja menterinya. Suatu program itu membutuhkan biaya, jadi apa yang terjadi dengan biaya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? Alokasi dana untuk kurikulum itu hanya Rp 64 miliar sudah ada, tetapi dengan pelaksanaan tahap pertama dia janjikan Rp 2,47 triliun, dari mana dana itu diambil? Dia bilang akan diambil dari mana-mana. Ini merusak Rencana Strategis sudah ada dan ini berbahaya.

Apa anggaran itu karena sudah masuk 20 persen dana pendidikan dari APBN seperti dalam UUD 1945?

Jangan percaya dengan 20 persen itu. 20 persen itu rencana semula, tidak termasuk gaji guru. Sekarang itu dimasukkan, alasannya kita masih miskin. Tetapi yang korupsi itu banyak. Ini harusnya termasuk APBD bukan APBN, tetapi Anda lihat apa yang terjadi? Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bos itu jadi bus, dimakan oleh bupati atau gurunya sendiri. Makan tuh BOS dan bus itu, melayang ke angkasa bukan pada anak.

Kurikulum diganti tanpa evaluasi, berarti memang pendidikan kita memiliki program jangka panjang?

Tidak ada, hanya omong kosong. Contohnya lainnya, katanya untuk menaikkan kualitas pendidikan itu adalah guru harus mendapatkan sertifikasi. Tetapi apa yang terjadi, guru bersertifikasi dan yang tidak bersertifikasi sama saja. Yang membedakan adalah motivasi dari para guru. Guru punya pengalaman justru tidak lulus sertifikasi. Pelatihan untuk sertifikasi dilaksanakan selama tujuh hari.

Nah, apa yang diharapkan dalam tujuh hari sertifikasi? Mana ada efeknya, tidak ada efek. Artinya sekian ratus miliar dari program sertifikasi sama sekali tidak menaikkan mutu pendidikan kita. Dalam waktu dekat akan segera diterbitkan lewat studi Bank Dunia menyatakan program sertifikasi guru tidak berjalan.

Sudah banyak juga penelitian menyebut itu program gagal. Motifnya hanya uang saja. Bukan menggerakkan malah menggerakkan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk mengadakan program insentif bagi calon guru.

Sekarang dari tujuh hari tidak ada hasil. Nanti pelatihan untuk Kurikulum 2013 selama lima hari  akan ditertawakan lagi. Yang tujuh hari saja nol besar hasilnya, apalagi lima hari.

Kalau sudah seperti ini, lantas apa harus segera dilakukan?

Saya kira pimpinan kita harus tegas, tidak boleh plin plan karena itu akan diikuti oleh masyarakat. Lambat dalam mengambil keputusan, hal itu terus merembet ke yang lainnya. Dalam hal ini bisa dicontoh bekas Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Kalau ada menteri salah, langsung dicopot.

Apa fungsi kurikulum itu secara sederhana?

Kurikulum itu hanya alat. Ini salah dilihat oleh mereka yang menyusun kebijakan pendidikan kita. Dulu sudah saya katakan ke Panja DPR, saat ketuanya Utut Adianto. Dia sarjana matematika. Saya jelaskan ke dia, kurikulum itu hanya lintasan balapan, hanya sarana saja. Yang penting ke mana tujuannya. Bagaimana kudanya, siapa jokinya.

Secara epistimologi itu untuk proses, tergantung pada jarak, apa ingin dicapai. Sedangkan kudanya, siswa itu sendiri. Kalau dia kegemukan tidak akan bagus. Jadi harus sesuai tujuannya. Kalau untuk 300 meter jangan digunakan 500 meter. Jadi kurikulum itu bukan segalanya, hanya suatu proses saja.

Selasa, 16 April 2013

Produk Hukum (PERDASI)


PERDASI (PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA )

  • PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA NOMOR  15  TAHUN 2008TENTANG KEPENDUDUKAN
  • PERATURAN  DAERAH  PROVINSI  PAPUA  NOMOR 12  TAHUN 2008 TENTANG PENDIRIAN PERUSAHAAN PERSEROAN, PERUSAHAAN INDUK MILIK DAERAH PT. RAKYAT PAPUA SEJAHTERA (HOLDING COMPANY
  • PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA NOMOR  6 TAHUN  2008 TENTANG PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
  • PERATURAN  DAERAH PROVINSI PAPUA  NOMOR  7 TAHUN  2008 TENTANG PENATAAN  PERMUKIMAN 
  • PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA NOMOR  14  TAHUN 2008 TENTANG PERTAMBANGAN  RAKYAT  DAERAH


PERDASUS (PERATURAN DAERAH KHUSUS PROVINSI PAPUA )

  • PERATURAN DAERAH KHUSUS PROVINSI PAPUA NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG HAK ULAYAT MASYARAKAT HUKUM  ADAT DAN HAK PERORANGAN WARGA MASYARAKAT, HUKUM ADAT ATAS TANAH
  • PERATURAN  DAERAH KHUSUS PROVINSI  PAPUA NOMOR  21 TAHUN 2008 TENTANG  PENGELOLAAN  HUTAN BERKELANJUTAN DI PROVINSI PAPUA
  • PERATURAN DAERAH K HUSUS PROVINSI PAPUA NOMOR  18  TAHUN 2008 TENTANG PEREKONOMIAN BERBASIS KERAKYATAN
  • PERATURAN DAERAH KHUSUS PROVINSI PAPUA NOMOR  22 TAHUN 2008 TENTANG  PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM MASYARAKAT HUKUM ADAT PAPUA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
YPPGI ABDI WACANA WAMENA

PENGUMUMAN 

Kepada : Dosen Wali dan Mhs/i

Isi    : Diberitahukan kepada dosen dan mahasiswa bahwa perkuliahan semester genap akan dilaksanakan secara aktif minggu ini tanggal 15 mei 2013, maka diharapkan untuk segera untuk mengurus KRS dan KHS.
Demikian pemberitahuan kami, atas perhatian sdr diucapkan terima kasih.
 Wamena, 12 Maret 2013
 
Waket.I
Bidang Akademik


Drs. M.Sinaga, MM   
NIDN.120186701

STKIP Abdi Wacana Wamena Targetkan 200 Maba Diposting oleh : harianpagipapua Kategori: Seputar Kota Wamena - Dibaca: 122 kali WAMENA-Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Abdi Wacana Wamena sebagai salah satu perguruan tinggi yang mampu mencetak Sumber Daya Manusia di bidang Pendidikan untuk Pegunungan Tengah membuka pendaftaran mahasiswa untuk gelombang kedua. Demikian disampaikan Ketua Panitia Pendaftaran Lepinus Gombo S.Pd M.Si saat ditemui Harian Pagi Papua, baru-baru ini di ruang kerjanya. “Pendaftaran gelombang pertama sudah dilaksanakan sejak tanggal 21 mei hingga 9 juni 2012di mana sudah terdaftar sebanyak 70 calon mahasiswa sedangkan gelombang kedua akan dibuka mulai 18 Juni hingga 14 Jul 2012 di Kampus STKIP Abdi Wacana Sinkama,” ungkap Lepinus. Dikatakannya, Ada 3 program studi di STKIP Abdi Wacana di mana semuanya adalah Strata satu (S1) yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Matematika. “Tahun ini ditargetkan dapat menerima 200 orang mahasiswa baru (Maba) dimana pada gelombang pertama yang dibuka hanya 2 minggu sudah terdaftar 70 calon mahasiswa dan kami optimis pada gelombang kedua yang dibuka kurang lebih 1 bulan akan lebih banyak lagi calon mahasiswa yang mendaftarkan diri,” ujar Lepinus. Ditambahkannya, STKIP Abdi Wacana membuka pendaftaran ini bukan hanya untuk mahasiswa murni namun juga terbuka bagi yangsudah memiliki ijazah diploma tiga maupun tugas belajar. (day)

STKIP Abdi Wacana Wamena Targetkan 200 Maba
Diposting oleh : harianpagipapua
Kategori: Seputar Kota Wamena


WAMENA-Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Abdi Wacana Wamena sebagai salah satu perguruan tinggi yang mampu mencetak Sumber Daya Manusia di bidang Pendidikan untuk Pegunungan Tengah membuka pendaftaran mahasiswa untuk gelombang kedua. Demikian disampaikan Ketua Panitia Pendaftaran Lepinus Gombo S.Pd M.Si  saat ditemui Harian Pagi Papua, baru-baru ini di ruang kerjanya.
“Pendaftaran gelombang pertama sudah dilaksanakan sejak tanggal 21 mei hingga 9 juni 2012di mana sudah terdaftar sebanyak 70 calon mahasiswa sedangkan gelombang kedua akan dibuka mulai 18 Juni hingga 14 Jul 2012 di Kampus STKIP Abdi Wacana Sinkama,” ungkap Lepinus.
Dikatakannya, Ada 3 program studi di STKIP Abdi Wacana di mana semuanya adalah Strata satu (S1) yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Matematika.
“Tahun ini ditargetkan dapat menerima 200 orang mahasiswa baru (Maba) dimana pada gelombang pertama yang dibuka hanya 2 minggu sudah terdaftar 70 calon mahasiswa dan kami optimis pada gelombang kedua yang dibuka kurang lebih 1 bulan akan lebih banyak lagi calon mahasiswa yang mendaftarkan diri,” ujar Lepinus.
Ditambahkannya, STKIP Abdi Wacana membuka pendaftaran ini bukan hanya untuk mahasiswa murni namun juga terbuka bagi yangsudah memiliki ijazah diploma tiga maupun tugas belajar. (day)

Tiga Prodi STKIP Abdi Wacana Dapat Akreditasi Secara Bersamaan




WAMENA–Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Abdi Wacana Wamena, merupakan salah satu perguruan tinggi yang pertama kali didirikan di Kabupaten Jayawijaya, bahkan keberadaan perguruan tinggi ini merupakan perguruan tinggi pertama di kawasan Pegunugan Tengah Papua.
Sekalipun berada di daerah yang dulunya dianggap masih terisolir namun keberadaan STKIP Abdi Wacana Wamena tetap eksis beroperasi hingga saat ini, bahkan jebolan sekolah tinggi ini sekarang banyak yang dipakai sebagai tenaga pengajar di beberapa sekolah yang tersebar di kawasan pegunugan tengah Papua.
Dan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kerja keras STKIP Abdi Wacana Wamena dalam membantu mencetak SDM di kawasan pegunugan tengah Papua, pemerintah pusat melalui Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Bulan Juni tahun 2012 lalu, telah memberikan status Akreditasi secara bersamaan kepada 3 program studi (Prodi) yang ada di sekolah tinggi tersebut masing-masing, program studi bahasa dan sastra Indonesia, program Studi bahasa Inggris, dan program studi matematika.
Selain menerima akreditasi dari pihak pemerintah, STKIP Abdi Wacana Wamena juga mendapatkan akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan Surat Keputusan (SK) Nomor 024/SK/BAN-PT/AK-XV/S/I/2013 tanggal 25 Januari 2013.
Ketua Program Studi Bahasa Inggris, STKIP Abdi Wacana Wamena, Marthen Medlama, S.Pd, kepada Harian Pagi Papua, Minggu (17/3/2013) melalui telepon selularnya mengatakan, pemberian akreditasi yang dilakukan secara bersamaan kepada STKIP Abdi Wacana melalui pemerintah dan BAN-PT kepada 3 program studi yang ada di kampusnya merupakan salah satu pencapaian yang luar biasa dan merupakan sejarah baru yang telah dibuat oleh sekolah tersebut khususnya untuk kawasan pegunungan tengah Papua.
Karena menurut penuturan Marthen Medlama, selama ini belum pernah ada satu sekolah tinggi di Kabupaten Jayawijaya maupun kawasan pegunungan tengah Papua yang mendapatkan akreditasi secara bersamaan pada 3 program studi, namun yang lazim terjadi adalah akreditasi diberikan hanya bagi satu program studi di satu perguruan tinggi.
“Ini merupakan sejarah baru yang dibuat oleh STKIP Abdi Wacana karena secara bersamaan kami dapatkan akreditasi untuk 3 Program studi, ini merupakan pencapaian yang luar biasa dikawasan pegunugan tengah papua karena selama ini belum pernah ada perguruan tinggi di Kabupaten Jayawijaya maupun di pegunugan tengah yang dapatkan hasil seperti ini,” Ungkap Marthen Medlama.
Dengan adanya pemberian akreditasi ini, Marthen Medlama mengucapkan terimakasih kepada pemerintah yang mana telah memeberikan penilaian secara obyektif.
Dan juga pencapaian ini merupakan bentuk kepercayaan pemerintah terhadap keberadaan STKIP AW Wamena, yang selama ini telah berupaya dan berjuang untuk menjadikan sekolah ini sebagai salah satu sekolah yang bermutu dan memiliki daya saing dengan sekolah tinggi lainnya di daerah ini.
Bahkan menurut Marthen dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Jayawijaya baru STKIP AW Wamena yang menerima akreditasi oleh pemerintah dan BAN-PT.
Sehingga dia Berharap dengan adanya status akreditasi yang diterima perguruan tinggi tersebut, dapat menambah minat masyarakat di seluruh pegunungan tengah untuk mengenyam pendidikan di STKIP Abdi Wacana Wamena.
“Kami STKIP Abdi Wacana sudah dapat pengakuan dari pemerintah melalui akreditasi jadi kami harap masyarakat juga bisa memberikan kepercayaan kepada kami dengan menyekolahkan anak-anaknya di STKIP Abdi Wacana, karena pemerintah telah melihat bahwa kami juga mampu untuk bersaing dengan perguruan tinggi lainnya di daerah ini,”tegasnya.
Pada kesempatan ini Marthen juga mengharapkan adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan juga pemerintah dari 10 Kabupaten di Kawasan Pegunugan Tengah Papua untuk mendorong keberadaan STKIP Abdi Wacana untuk bisa lebih maju dan berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi terbesar di kawasan pegunugan tengah Papua.
“Dengan capaian ini kami harapkan adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah dikawasan pegunugan tengah papua, karena selama ini STKIP Abdi Wacana masih kekurangan sarana pendukung berupa gedung perkuliahan, dan fasilitas penunjang lainnya,”tuturnya.
Disinggung soal tenaga pengajar, menurutnya hingga saat ini STKIP Abdi Wacana telah memiliki 16 orang dosen dengan kualifikasi S2, 20 dosen akademik yang siap mendukung STKIP Abdi Wacana Wamena mencetak output yang berkualitas di daerah ini. (fre/hpp)